Calang, TP – Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat upaya penanganan tuberkulosis (TB) sebagai bagian dari komitmen menekan penyebaran penyakit menular tersebut di daerah. Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), dari total target 262 kasus TB yang harus ditangani sepanjang 2025, hingga awal Oktober baru 114 orang atau sekitar 43 persen yang telah mendapatkan penanganan medis.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Aceh Jaya, Salbiah, mengatakan pihaknya menargetkan pemantauan terhadap 1.275 warga di seluruh kecamatan yang masuk dalam kelompok berisiko tinggi TB. Dari jumlah tersebut, 262 kasus menjadi target capaian penanganan pada tahun berjalan.
“Dari total sasaran 1.275 orang, sudah 262 kasus TB yang terdeteksi. Kami terus melakukan skrining kesehatan, investigasi kontak erat pasien, hingga pemberian terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) selama tiga bulan,” ujar Salbiah.
Ia menjelaskan, tuberkulosis merupakan penyakit infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Umumnya menyerang paru-paru, namun dapat pula menyebar ke organ lain seperti ginjal, tulang, dan otak.
Hingga saat ini, 114 pasien TB di Aceh Jaya telah menjalani pengobatan, dan 22 di antaranya dinyatakan sembuh. Sementara sekitar 148 orang lainnya masih dalam tahap pengobatan aktif dan diharapkan bisa diselesaikan sebelum akhir tahun.
Selain itu, Dinas Kesehatan mencatat dua kasus TB RO (resisten obat) dan 112 kasus TB SO (sensitif obat) yang masih dalam pemantauan intensif oleh petugas kesehatan di lapangan.
Salbiah menuturkan, berbagai langkah strategis telah ditempuh untuk mempercepat penanganan, mulai dari deteksi dini kasus baru, peningkatan edukasi masyarakat, hingga pengawasan ketat terhadap kepatuhan pengobatan pasien.
“Kami memperkuat koordinasi lintas sektor dan memanfaatkan jaringan puskesmas serta kader kesehatan di gampong agar masyarakat lebih sadar pentingnya deteksi dini TB,” ujarnya.
Ia menambahkan, Dinas Kesehatan Aceh Jaya juga berkomitmen mendukung program nasional “Indonesia Bebas TB 2030”. Melalui kolaborasi dengan fasilitas layanan kesehatan, pemerintah desa, dan lembaga masyarakat, diharapkan tingkat kesembuhan pasien dapat meningkat dan penularan baru dapat ditekan secara signifikan.
“Langkah ini menjadi bagian penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Kami ingin memastikan semua warga berisiko bisa mengakses layanan skrining dan terapi pengobatan,” tegas Salbiah.(Adv)











