Banda Aceh, TP – Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) kembali mencatat prestasi di tingkat nasional setelah tim mereka berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2025 dari Kemendiktisaintek. Tim ini menciptakan inovasi pelapis pangan alami berbasis limbah cangkang kerang hijau bernama Circular Processing Edible Coating atau CIPECO.
Ketua Tim CIPECO, M. Abdul Hamid, mengatakan inovasi tersebut menjadi salah satu dari 13 proposal—sekitar 5,41 persen dari total usulan—yang berhasil lolos pendanaan PKM di lingkungan USK.
“CIPECO dirancang sebagai lapisan pelindung berbahan alami yang dapat memperpanjang masa simpan produk protein seperti daging, ayam, dan ikan,” ujar Abdul di Banda Aceh, Sabtu (27/09).
Menurutnya, keunggulan utama produk ini terletak pada pemanfaatan kitosan dari limbah cangkang kerang hijau yang melimpah di pesisir Aceh, dipadukan dengan minyak atsiri biji pala sebagai agen antibakteri alami.
“Produk ini menjadi solusi pengawet alami yang aman dikonsumsi, ramah lingkungan, dan praktis digunakan. Kami ingin menjawab tantangan pengurangan limbah laut sekaligus menjaga ketahanan pangan,” ujarnya.
CIPECO diklaim mampu memperlambat proses pembusukan beberapa hari lebih lama dibandingkan metode penyimpanan konvensional. Produk ini ditujukan untuk digunakan oleh rumah tangga, pelaku UMKM, hingga industri pengolahan hasil laut.
Tim pengembang CIPECO terdiri atas mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, yakni M. Abdul Hamid, M. Zacky Barsya, dan M. Abidzar, serta dua mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dara Apriani dan Azid Ramadhan.
Kolaborasi lintas disiplin ini memadukan riset ilmiah dengan strategi bisnis. “Pendekatan multidisipliner ini menjadikan CIPECO tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga berpotensi dikomersialisasikan,” kata Abdul.
Setelah dinyatakan lolos pendanaan, tim CIPECO kini tengah menyiapkan uji pasar dan tahap produksi awal. Produk cair siap pakai tersebut ditawarkan dengan harga Rp65.000 per 500 ml, dan dirancang agar mudah diaplikasikan untuk berbagai kebutuhan.
Anggota tim, Dara Apriani, menambahkan bahwa pihaknya juga aktif melakukan sosialisasi kepada pelaku UMKM dan pedagang pasar tradisional di Banda Aceh. “Kami ingin memastikan riset ini tidak berhenti di laboratorium, tetapi bisa benar-benar dimanfaatkan masyarakat,” ucapnya.
Dosen pembimbing, Asmawati M. Sail, menjelaskan bahwa capaian ini menunjukkan kemampuan mahasiswa USK dalam menghasilkan riset aplikatif yang relevan dengan isu ketahanan pangan nasional.
“CIPECO membuktikan bahwa inovasi mahasiswa mampu menghadirkan solusi nyata dan berdaya guna. Kami berharap ini menjadi model bisnis ramah lingkungan yang mendukung ekonomi sirkular di Aceh,” kata Asmawati.
Ia menambahkan, pemanfaatan limbah kerang hijau tidak hanya berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi nelayan dan pelaku industri perikanan di wilayah pesisir.











